FAQ
 
Questions
 

    Kesehatan

  1. Apakah Vegetarian menyebabkan kekurangan Vitamin B12 ?
  2. Apakah menjadi vegetarian akan terkena anemia ?
Answers
 

  1. Vitamin B12 atau Cyano-cobalamine merupakan salah satu vitamin B yang berguna untuk membentuk sel darah merah, melindungi lapisan myelin yang membungkus urat saraf, mempengaruhi pertumbuhan dan kesuburan, dan membantu pencernaan lemak, protein, dan karbohidrat. Walaupun kelihatannya vitamin ini mempunyai fungsi seabrek, tetapi hanya sedikit saja jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh yaitu 2,5 - 3,0 mikrogram perhari. Namun demikian vitamin B12 harus tetap ada dalam tubuh kita. Memang harus diakui bahwa vitamin B12 banyak terdapat dalam makanan yang berasal dari hewan seperti hati, ikan, otak, jantung, susu dan kuning telur. Tapi bukan berarti kebutuhan akan vitamin B12 itu tidak dapat dipenuhi bagi yang bervegetarian. Bagi lacto ovo atau lacto vegetarian (yang masih mengkonsumsi susu dan telur), tentu tidak kesulitan untuk mendapatkan vitamin B12 karena dengan mengkonsumsi susu dan telur cukup memenuhi kebutuhan vitamin B12 setiap hari. Bagaimana dengan vegan murni yang tidak mengkonsumsi susu dan telur? Pada tahun 1977, para ahli telah menemukan bahwa vitamin B12 dapat diproduksi oleh bakteri pada waktu pembuatan tempe dari kacang kedelai. Dalam setiap 100 gr tempe ( 4 potong tempe ukuran 4x 6x1 cm) terdapat ± 4 - 5 mcg B12 yang telah melebihi kebutuhan sehari. Dalam setiap butir telur terdapat ± 1 mcg vitamin B12, sedangkan dalam satu gelas susu terdapat ± 1 mcg. Selain itu , sumber vitamin B12 yang lain adalah dari pertumbuhan bakteri yang terdapat di mulut tenggorokan dan sekitarnya. Lebih dari 0,5 mcg setiap hari dapat diperoleh dari sumber ini. Karena itu dianjurkan untuk minum air putih terlebih dahulu setelah bangun tidur sebelum sikat gigi. Vitamin B12 juga terdapat dalam jumlah yang kecil pada gandum, kacang kedelai, sayuran hijau dan buah-buahan. Juga ditemukan sebagai hasil sintesa mikroorganisme di tanah yang melekat di akar dan batang dari tomat, kangkung, kobis, seledri. Jadi sebenarnya kita tidak perlu khawatir akan kekurangan vitamin B12. Dengan pola konsumsi dan pola hidup yang baik maka kekhawatiran akan kekurangan vitamin B12 tak perlu ada. Perlu diingat , jangan mengkonsumsi vitamin C dosis tinggi ( paling banyak 0,5 g perhari). Karena Vitamin C dosis tinggi dapat merusak vitamin B12.

    Tabel sumber Vitamin B12
    1 butir telur 1,0 mcg (microgram)
    1 gelas keju lunak (vegetarian) 1,2 mcg
    1 gelas yoghurt + susu bebas lemak 1,0 mcg
    100 gr tempe 5,0 mcg
    1 gelas susu kacang kedelai yang diperkaya vit.B12 (mis. Bonus) 4,0 mcg

    dr.Lusia Anggraini
    Staff ahli KVMI

    [Back to top]

  2. Penyakit anemia sebenarnya bukan merupakan suatu penyakit tapi merupakan gejala suatu penyakit. Anemia berarti menurunnya konsentrasi hemoglobin (Hb) di dalam darah. Pada pemeriksaan laboratorium dijumpai :

    -Pria : Hb < 14 g/dl, Ht < 41%, jumlah eritrosit < 4,5 juta/ml
    -Wanita : Hb < 12 g/dl, Ht < 37%, jumlah eritrosit < 4 juta/ml .

    Hemoglobin adalah protein yang mengandung zat besi dan melaksanakan fungsi pengangkutan oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. Untuk membentuk butir darah merah, sumsum tulang membutuhkan bahan baku yang cukup yakni zat besi, asam amino,vitamin B12, asam folat, B2, B6,vitamin C, E ; mineral ( kobalt dan tembaga ) serta hormon erythropoeitin.

    Secara umum anemia disebabkan oleh :
    1. Penurunan produksi :
    - anemia defisiensi : zat besi, vitamin B12 ( anemia pernisiosa ), asam folat.
    - anemia aplastik : ketidaksanggupan sumsum tulang membentuk darah.
    2. Peningkatan penghancuran :
    - anemia karena perdarahan : maag, haid yang banyak, epistaxis, infestasi cacing, perdarahan saluran cerna akibat obat analgesik.
    - anemia hemolitik : karena umur eritrosit yang pendek sehingga mudah hancur.

    Jadi bila seseorang menderita anemia maka perlu ditelusuri penyebabnya dan bukan melulu karena faktor makanan yang kurang. Tubuh manusia sebenarnya hanya dapat menyerap sedikit zat besi yang dimakan yakni sekitar 20 % tetapi dapat mendaur ulang zat besi yang didapat dari hasil penghancuran butir darah merah yang telah mati (umur > 120 hari). Jadi kebutuhan zat besi dari makanan sesungguhnya hanya sedikit dan dari penelitian diketahui bahwa pada anemia akibat kekurangan zat besi sebenarnya yang paling menentukan adalah asupan vitamin C yang dapat membantu usus halus untuk menyerap zat besi dari makanan untuk masuk ke dalam tubuh. Oleh sebab itu dianjurkan untuk mengkonsumsi cukup vitamin C pada saat makan atau dapat juga meminum 1 gelas jus jeruk sesudah makan. Secara umum pada vegetarian sebenarnya tidak ada masalah karena secara umum banyak vitamin C yang dimakan seperti sayur, buah, kentang, tomat, air jeruk, kubis dll yang akan mengubah zat besi Ferri menjadi Ferro yang sia! p untuk diserap. Beberapa hal penting yang perlu diingat adalah menghindari teh, kopi pada waktu makan dan hanya diperbolehkan minimal > 1 jam sebelum makan dan juga makanan yang mengandung phytate seperti dedak/sekam dan cereal utuh. Juga zat fosfat yang ditambahkan dalam minuman ringan, es krim, manisan dapat mengurangi penyerapan zat besi. Demikian juga halnya dengan makanan tinggi Kalsium seperti susu tidak boleh diminum bersamaan dengan makanan.

    Adapun sumber zat besi adalah : sayur hijau ( bayam, daun singkong, kangkung,daun pepaya dll ), palawija, kuning telur ( lebih tinggi dari daging ) , buah kering seperti kismis, kacang-kacangan, wijen, cabe rawit, jamur dll. Kebutuhan sehari : 13 mg pada pria dan 18 mg pada wanita ( menurut RDA di Amerika ). Di Indonesia disarankan 20 mg sehari.

    Sumber vitamin B12 yang penting seperti : tempe, telur, susu, rumput laut, cereal yang diperkaya, suplemen dari obat.

    Sumber asam folat terutama dalam sayuran yang berwarna hijau. Semua makanan yang dibutuhkan sebenarnya telah tersedia pada diet vegetarian sehingga tidak ada alasan kekhawatiran terhadap anemia. Dan hal ini memang terbukti dari penelitian di dunia di mana tidak terdapat bukti korelasi yang bermakna antara anemia dengan pola hidup vegetarian.

    Salam kasih Maitreya,


    dr.Hendry Widjaja.

    [Back to top]